Dear all bikers,
Sabtu - Minggu kemaren, team survey KG yg dikomandai Mbah Kamil, dan beranggotakan
Abah Soemarna, Mang Asep dan Dheny telah merintis jalan menuju Desa Naringgul,
Cianjur Selatan.
Perjalanan ini menempuh rute yg cukup berat, jauh dan penuh tantangan, bermula dari gerbang jalan
menuju Situ Patengan, terus mendaki pegunungan ke arah selatan melewati hamparan kebun teh
Rancabali milik PTPN VIII menuju ke Lembah Sungai Cipandak, demikian para penduduk menamai
lembah itu.
Kami start dari pertigaan ke arah situ patengan, ambil arah kiri, jam menunjukan pukul 07.25 wib.
Kontur jalan naik turun dan beraspal mulus sampai ke perbatasan Bandung - Cianjur (Horeeeeee kata
pak Agung dalam hatinya).
Spedometer menunjukan angka 3.9KM ketika kami menemukan turunan sepanjang 2.4 km.
Turunan tersebut berujung di pertigaan, kanan ke perkebunan teh Cidahu, kami ambil arah kiri
menuju Gunung Sumbul, nampak di depan membentang tanjakan aspal yang meliuk-liuk
seolah membelah hamparan permadani hijau, uihhh sungguh indah sekali.
Dengan semangat kami terus mengayuh sepeda, melalap tanjakan maupun turunan
menuju puncak gunung.
Pukul 09.10 sampai di puncak, jarak tempuh kurang lebih 10.8KM,
nampak dari jauh ada warung makan, kami mengaso dulu di sana, tak lupa memesan nasi
bukan bekal makan siang.
Perjalanan sampai ke puncak Gunung Sumbul ini enjoy sekali, dan untuk category coss country funbike
sangat okeh pisannn, bahkan untuk newbie sekalipun.
Kontur jalan aspal mulus, naik turun, ada jeda bagi kita untuk bernapas.
Dan dari atas puncak terlihat dengan jelas, single trek yg meliuk2 membelah perkebunan teh
menuju perkampungan Cidahu.
Tapi, kami tidak sempat mencoba, karena target adalah Air Terjun Cipandak.
Terus terang saja, sepedahan di kawasan perkebunan teh Rancabali ini, menguak kenangan lama
yang hampir terlupakan. Terbayang lagi memori 20 tahun-an yang lalu.
Ya..betul hampir 20 tahun telah berlalu, saat jaman sekolah dulu,
saat bandel2nya menjadi mahasiswa. Kemping di kawasan Ranca Upas, kehuj di Situ Patengan,
berendam di Kolam Panas Ciwalini, menginap di salah satu villa di perkebunan teh Sinumbra.
Terbayang kembali wajah teman2 SMA dan teman2 masa kuliah, yang sekarang sudah tidak tahu lagi
kabar beritanya, ahhh ...........
Perjalanan kami teruskan. Kali ini kami harus melalui medan down hill yang curam (he..he...
tapi jangan khawatir, yang ini mah downhill onroad), tapi harus hati2 karena selain curam,
jalannya berkelok2 , belokan letter S bertebaran sepanjang jalan.
Kami tidak bisa full speed seperti waktu pulang dari Tangkuban Perahu, speedometer hanya
menunjukan angka 37KM/Jam saja.
Untuk menuruni gunung ini, rem musti bener2 pakem, dan seatpost musti agak di turunin,
kemaren kayaknya team survey tidak sempat menurunkan sadel, karena memang tidak mengetahui
medan.
Untung saja kemaren, M/A memakai sepeda fullsus, terasa beratnya sepeda sangat membantu
di tikungan tajam, ban tidak menggelincir, krn mungkin ketahan bobot sepeda.
Di KM 14.2 tepatnya di desa Purut kami berhenti dulu, sambil menunggu mbah kamil yang
ketinggalan cukup jauh, nunggu cukup lama, terbersit rasa cemas, jangan2 si mbah nyungsep
di kebun teh, tak lama kemudian beliau muncul sambil tersenyum2, rupa si mbah sibuk foto2.
Perjalanan kami lanjutkan, tetap dengan kontur turunan curam sampai perbatasan bandung selatan
dengan cianjur, tepatnya di KM 15.5
Selepas itu kami masuk menembus Hutan Rasamala dengan jalan aspal agak rusak, disinilah
keuntungan kalau memakai sepeda fullsus, turunan jalan rusak bisa dilibas begitu saja, beda
dengan sepeda hardtail yg harus memilih-milih jalan bagus.
Di tengah hutan di jembatan pertama yg ditemui di KM 16,8, kami berhenti dulu, karena nampak
dari kejauhan kelihatan Air Terjun yang tinggi.
Selepas keluar dari Hutan Rasamala ini, udara terasa agak hangat, tidak dingin lagi,
dan terlihat berjejer 3 buah Air Terjun
Wahhhh.... kayaknya sebentar lagi mau nyampe tujuan nih
ehh ternyata dugaan kami keliru, ternyata untuk menuju target tujuan
kami harus melewati turunan sawah lagi sepanjang 4.8KM.
Turunan ini terasa istimewa, karena selain lebih curam, belokannya lebih tajam,
seperti huruf S yang nyambung terus menerus, kalau ditarik garis lurus,
nampak kita sedang menuruni anak tangga yang panjang.
Pokoke asyikkkkkk......... baru kali ini, M/A mendapat turunan yang super panjang,
turunan yg bisa membuat aaaaagggggghhhhhhh ..........
Di KM 21.4 akhirnya kami sampai di jembatan yang merupakan Lembah Sungai Cipandak.
Lidah kami tak hentinya berdecak kagum melihat panorama sekeliling kami, bagaimana tidak
di kiri kanan kami berjejer puluhan Air Terjun. Tak salah rasanya, jika daerah ini oleh para pelancong
dinamai daerah Seribu Air Terjun.
Tak terasa mulut kami mengucapkan tasbih memuji keagungan-Mu ya ALLAH
Indah sekali ciptaan-Mu.
Jam menunjukan pukul 10 kurang 5 menit
Wahhhhh ternyata kita menurunin bukit sepanjang 10.6 KM hanya dalam waktu kurang lebih
setengah jam-an.
Perjalanan semestinya berhenti sampai di sini saja, tapi seperti biasa mbah kamil merasakan
jatahnya kurang.
Akhirnya diputuskan target berikut adalah Air Terjun Terakhir yang berada di sisi jalan aspal.
Gowes maning .......
Namun kali dengan medan jalan aspal rusak dengan medan naik turun (he..he... banyak
naiknya). Meskipun nanjak, kami sangat menikmati trek ini, ya itu tadi karena sejauh mata
memandang yang terlihat hamparan sawah yang luas yang berujung dinding air terjun.
Di KM 25 kami sampai ke Desa Balegede, penduduknya ramah2 ciri khas rakyat parahyangan.
Air terjun yang dicari ada di KM 28.
Kemudian gowes terus, mencari tempat teduh untuk berisitirahat.
Di KM 30.9 KM perjalanan diputuskan berhenti. Cari warung untuk makan siang.
Sementara sepeda kami titipkan di mushola terdekat. Waktu menunjukan 11.30.
Setelah makan siang, kami bergegas mencari Air Wudlu tuk melaksanakan
kewajiban Sholat Dzuhur dan Ashar sekaligus.
Di Mushola kami rebahan dulu, tak terasa kami tertidur sampai pukul 13.40.
Gowes di mulai lagi jam 14.00, cuaca mulai mendung, dari jauh sudah terdengar
gelegar petir. Kami segera bergegas mengayuh sepedah, namun baru saja
gowes k/l 500 meteran, hujan lebat langsung turun, kami langsung basah kuyup.
Walhasil, tanjakan aspal rusak menjadi licin. Di beberapa ruas terpaksa kami
harus TTB, karena licin. Di sini terasa beratnya menggunakan sepeda fullsus JBL,
berat pisan euyyy, pake sepeda hardtail yang super ringan seperti mosso saja,
M/A mah banyak ttbnya apalagi JBL yang berat ini.
Salutlah buat P Syamsul yg biasa gowes pake sepeda ini.
Karena hujan terus mengguyur dengan deras, dan jalan sangat licin.
Akhirnya ketika ada pickup yang lewat, Abah Soemarna dengan reflek
menyetopnya.
Jadi sisa perjalanan balik lagi ke puncak Gunung Sumbul, dengan terpaksa
kami menggunakan kendaraan.
Sekali lagi ini mah benar-benar terpaksa kami lakukan,
yah....karena cuaca sangat tidak bersahabat.
Meskipun selama dalam perjalanan, badan kami benar-benar tersiksa,
di banting ke kiri dan ke kanan, perut kami yang baru terisi kayaknya
seperti dikocok-kocok.
Ketika kami turun dari mobil, baru terasalah dinginnya puncak gunung sumbul,
dheny yang sudah tidak kuat menahan dingin dan yang sempat muntah2
di jalan, segera masuk menuju dapur perapian si emak warung, tak lama
kemudian si abah menyusul, 5 menit kemudian M/A segera menyusul
karena benar2 sudah mengigil.
Di dapur si emak kami bersenda gurau sambil ledek2an.
Tatkala melihat perapian si emak, memori M/A terkenang lagi ke 33 tahun yang silam,
seolah2 sedang duduk di dapur almarhumah nenek, yang perapiannya, ryang umah anyaman
bambunya (bilik) persis dengan si emak warung ini.
Pukul 16.00 meskipun hujan masih gerimis dan kabut sudah tebal, daripada kemalaman di jalan,
kami teruskan perjalanan menuju portal Situ Patengang.
Waktu menunjukan 17.20 ketika kami mulai meloading kedalam kijang innova.
Bada Maghrib, kami berendam dahulu di Kolam renang Air Panas Cimanggu,
melemaskan otot2 yg cape, badan rasanya lebih segar.
Setelah mencari informasi villa/penginapan, dilanjut makan malam di kota Ciwidey,
kami kembali ke base camp sekitar pukul 20.30-an.
Jadi, bapak2 goweser semua, sebenarnya kalau untuk mencari yang enak2,
gowes sampai ke puncak Gunung Sumbul sudah mewakili keinginan bapak,
rute hanya 10 KM naik turun, jalan aspal mulus, ditambah 3.6 KM apabila start
dari Kolam Renang Cimanggu.
Tetapi apabila menginginkan sedikit tantangan, kami anjurkan turun sampai
KM 16.8 dgn target air terjun di hutan rasamala.
Namun seandainya, punya energi berlebih, rekan2 bisa nerus sampai Lembah
Sungai Cipandak di KM 21.6. Dengan catatan, harus ada mobil pengiring
yang ikut ke turun ke lembah.
Tetapi lebih dari itu, sangat tidak kami anjurkan, kecuali memang tujuan
gowes kita adalah Pantai Jayanti., dan bermalam di sana.
Ada sedikit oleh2 dari kami. Monggo dibuka-buka fotonya.
Kalau ingin lebih lengkap bisa dilihat di komputer p Andi Usri.
BTW.
Survey hari kedua akan dilaporkan terpisah.
Salam gowes,
team survey yangkemaren kenyangamaturunancuram dan tanjakan terjal.